IKMAL INZAN CITA

WISUDA SARJANA STKIP MUH. BULUKUMBA

ALMAMATER SAKTI STKIP MUH. BULUKUMBA

RAPAT PROGRAM KERJA KKLP STKIP MUH. BULUKUMBA

GROWTH CENTRE

Senin, 18 Maret 2013

Daur Biogeokimia

Berikut ini kami tampilkan gambar untuk siklus/ daur Biogeokimia. Berhubung kualitas gambar untuk yang berbahasa Indonesia tidak begitu bagus maka kami menampilkan gambar dalam bahasa Inggris.

1. Daur/ Siklus Air


Add caption
2. Siklus/ Daur Karbon




Siklus/ Daur Nitrogen



4. Siklus/ Daur Sulfur ( Belerang )


5. Siklus/ Daur Phosphor


Amfibi

Salamander



Ada sekitar 360 jenis salamander dan kadal air. Amfibi langsing berekor ini adalah mahluk pemalu penghuni tempat lembab, terutama wilayah sejuk beriklim sedang di belahan bumi utara. Kebanyakan spesies mengalami metamorfosis ( perubahan bentuk fisik ). Namun ada beberpa salamander air yang mempertahankan ciri larva saat dewasa, terutama insang luar dan sirip

CIRI/ SIFAT DAN KARAKTERISTIK
A. Ritual Perkawinan

Kadal air besar menampilkan ritual perkawinan bawah air yang rumit. Pertama-tama, jantan berrenang di depan betina untuk memamerkan perutnya yang berwarna-warni. Ia mengangkat balung di punggungnya dan mengibas-kibaskan ekornya kemudian mengipaskan zat kimia bernama feromon ke arah betina untuk menarik perhatian. Terakhir jantan meletakkan spermanya di dasar kolam atau sungai untuk memandu betina ke atasnya agar telur dari betina dapat dibuahi



B. Merayap
Salamander api berjalan perlahan di darat. Seperti salamander lainnya, dua kaki yang diagonal bergerak bersamaan. Salamander mengangkat dan menggerakkan kaki depan di salah satu sisintubuhnya bersamaan dengan kaki belakang di sisi tubuh lainnya. Agar bisa berlari cepat secara mendadak, salamander mengibaskan ekornya yang panjang ke kiri dan ke kanan. Gerak mengibas ini meningkatkan kecepatan merayap.

C. Makanan
Salamander air memakan kecebong, bekicot dan ian kecil. Salamander darat memakan hewan bertubuh lunak, contohnya cacing.

Axolotl
Axolotl mengalami kondisi yang disebut neoteni. Ini berarti hewan tersebuta adalah dewasa yang matang secara seksual sehinga bisa berkembang biak. Namun bentuknya mirip larva. Ia takkan pernah mengembangkan kaki darat atau bentuk tubuh seperti salamander dewasa lain. Axolotl mempertahankan insangnya dan hidup akuatik sepenuhnya. Di alam bebas, axolotl sekarang hanya ditemukan di danau Xochimilco di Meksiko.


Anjing Lumpur

Anjing lumpur Amerika Utara adalah sejenis salamander. Insangnya khas berwarna merah dan terletak di kedua sisi kepalanya. Darah mengalir melalui insang dan mengikat oksigen dari air.








Sesilia

Sesilia adalah amfibi tanpa tungkai serupa cacing dengan gigi tajam dan kerangka bertulang. Ada yang hidup di bawah tanah dan menggunakan moncong yng runcing serta tengkorak yang keras untuk membuat liang di tanah. Ada pula yang hidup di air. Sesilia memiliki sirip pada ekor untuk berrenang. Sekitar 170 spesies sesilia ditemukan di wilayah tropis Afrika, Asia dan Amerika Selatan.


Penglihatan Sesilia buruk karena matanya tertutupi oleh lapisan pelindung. Sebagai pengimbangnya, amfibi ini memiliki organ pengindra di bawah setiap rongga mata. Tentakel ini mengumpulkan partikel bau di udara yang digunakan sesilia untuk menenttukan letk pasangan dan mangsa, misalnya cacing tanah.

Minggu, 17 Maret 2013

Phytoplankton dan Global Warming



A. Definisi

                 Phytoplankton adalah kelompok Plankton ( mahluk hidup uniseluler ) yang mengandung kloroplast/ klorofil pada selnya. Biasanya organisme ini berasal dari Cyanophyta ( ganggang hijau biru ) yang merupakan anggota kingdom Monera  dan Chlorophyta ( ganggang hijau ) yang merupakan anggota kingdom Protista ( Protista mirip tumbuhan/ algae/ ganggang.)
                  Di dalam ekosistem perairan Phytoplankton berperan sebagai produsen karena kemampuannya berfotosintesis membentuk cadangan makanan ( amylum ). Sifat fotosintesisnya menyerupai tumbuhan. Sehingga pada klasifikasi lama Cyanophyta dan Chlorophyta pernah dimasukkan dalam kelompok tumbuhan tingkat rendah ( Thallophyta )

B. Peranan Phytoplankton

                   Jika kita melakukan pengamatan mikroskopis pada sampel air dari kolam/ atau sungai,sepintas air tersebut nampak jernih. Namun setelah kita amati dengan mikroskop, disana banyak ditemukan sebentuk benda bulat, oval, benang dan bermacam-macam bentuk unik lain yang berwarna hijau atau hijau kebiruan. Itulah organisme kecil yang ternyata memiliki peranan yang sangat besar bagi kehidupan mahluk hidup di dunia, Phytoplankton.

Selain telah disebutkan bahwa Phytoplankton merupakan produsen dalam ekosistem perairan, dan organisme uniseluler autotrof tersebut merupakan penyumbang 80% Oksigen di bumi.

Ternyata pengertian selama ini tentang penyumbang oksigen terbesar adalah tumbuhan kurang tepat. Berdasar penelitian terbaru, Phytoplankton-lah penyumbang oksigen terbesar.

Mengapa demikian?
Jumlah populasi phytoplankton di permukaan bumi sangatlah melimpah, mengingat organisme tersebut merupakan organisme uniseluler akuatik. Selain kemampuannya dalam menghasilkan makanan sendiri, hasil samping proses fotosintesisnya adalah berupa Oksigen. Sedangkan tumbuhan peran utamanya adalah mengurangi emisi karbondioksida (CO2) di udara. Kontribusinya terhadap persediaan oksigen di bumi hanya 20%.

C. Phytoplankton dapat mengurangi terjadinya pemanasan global ?????

Berikut ini penemuan yang luar biasa atas keberadaan Phytoplankton di bumi: ( diambil dari apakabardunia )

Para ilmuwan dari Amerika Serikat menemukan plankton secara tidak langsung dapat membuat awan yang dapat menahan sebagian sinar matahari yang merugikan. Sehingga plankton bisa membantu memperlambat proses pemanasan bumi.
Dierdre Toole dari Institusi Oceanografi Woods Hole (WHOI) dan David Siegel dari Universitas California, Santa Barbara (UCSB) adalah dua peneliti itu.

Penelitian yang dibiayai oleh NASA tersebut mengungkapkan ketika matahari menyinari lautan, lapisan atas laut (sekitar 25 meter dari permukaan laut) memanas, dan menyebabkan perbedaan suhu yang cukup tinggi dengan lapisan laut di bawahnya. Lapisan atas dan bawah tersebut terpisah dan tidak saling tercampur.


Plankton hidup di lapisan atas, tapi nutrisi yang diperlukan oleh plankton terdapat lebih banyak di lapisan bawah laut. Karenanya, plankton mengalami malnutrisi.

Akibat kondisi malnutrisi ditambah dengan suhu air yang panas, plankton mengalami stress sehingga lebih rentan terhadap sinar ultraviolet yang dapat merusaknya.

Karena rentan terhadap sinar ultraviolet, plankton mencoba melindungi diri dengan menghasilkan zat dimethylsulfoniopropionate (DMSP) yang berfungsi untuk menguatkan dinding sel mereka.
Zat ini jika terurai ke air akan menjadi zat dimethylsulfide (DMS). DMS kemudian terlepas dengan sendirinya dari permukaan laut ke udara.

Di atmosfer, DMS bereaksi dengan oksigen sehingga membentuk sejenis komponen sulfur. Komponen sulfur DMS itu kemudian saling melekat dan membentuk partikel kecil seperti debu. Partikel-partikel kecil tersebut kemudian memudahkan uap air dari laut untuk berkondensasi dan membentuk awan.

Jadi, secara tidak langsung, plankton membantu menciptakan awan. Awan yang terbentuk menyebabkan semakin sedikit sinar ultraviolet yang mencapai permukaan laut, sehingga plankton pun terbebas dari gangguan sinar ultraviolet.

Proses ini sebenarnya telah beberapa tahun dipelajari di laboratorium oleh para ilmuwan, namun proses alamiahnya baru kali ini dapat dipelajari.

Awan yang disebabkan oleh plankton ini, dipercaya dapat memperlambat proses pemanasan bumi, serta memiliki efek besar tehadap iklim bumi. Namun, untuk membuktikan hal tersebut, masih harus dilakukan penelitian lanjutan yang seksama.

Penelitian yang dilakukan di Laut Sargasso, lepas pantai Bermuda ini juga menemukan secara mengejutkan bahwa partikel DMS ini dapat terurai dengan sendirinya di udara setelah tiga sampai lima hari saja. Padahal, karbondioksida di udara, dapat bertahan hingga berpuluh-puluh tahun.

Karena penguraian alamiah DMS sangat cepat, DMS tidak akan menimbulkan efek rumah kaca, tidak seperti karbondioksida.

Jadi bersyukurlah karena mereka kita masih bisa menghirup udara dengan bebas untuk kelangausngan hidup. Lalu yang terpenting dan terutama, bersyukurlah karena Tuhan mu telah menciptakan mereka.

Temukan gambar2 untuk Phytoplankton disini 

Halomonas titanicae: Bakteri Pemakan Bangkai Kapal Titanic

Pada 15 April 1912, Kapal RMS Titanic tenggelam. Sebuah kecelakaan kapal paling tenar sepanjang masa. Kisah kapal yang bangkainya yang kini terbaring di dasar Laut Atlantik terus mempesona dan menginspirasi banyak orang. Termasuk romantisme Jack dan Rose dalam film Hollywood berjudul 'Titanic. Namun, siapa sangka eksistensi bangkai Titanic sedang terancam, gara-gara bakteri. Para peneliti di Dalhousie University, Halifax, Nova Scotia, Canada telah meneliti bakteri yang menggerogoti Titanic. Itu adalah bakteri pemakan karat.




Menggunakan teknologi DNA, ilmuwan Dahousie, Henrietta Mann dan Bhavleen Kaur, serta peneliti dari University of Sevilla, Spanyol mampu mengidentifikasi spesies bakteri baru yang dikumpulkan dari rusticles -- formasi karat yang mirip stalaktit dari bangkai Kapal Titanic. Bakteri pemakan besi teroksidasi itu bahkan telah diberi nama, Halomonas titanicae.Penemuan bakteri ini punya arti penting dalam upaya mengawetkan bangkai kapal ini. "Pada 1995, saya memprediksi Titanic bakal bertahan 30 tahun lagi," kata Henrietta Mann, seperti dimuat situs LiveScience."Tapi, ini jauh lebih buruk. Umurnya mungkin lebih pendek, 15 atau 20 tahun."Bangkai Titanic saat ini ditutupi rusticle yang dibentuk setidaknya oleh 27 bakteri, termasuk Halomonas titanicae.

Rusticles memiliki pori-pori yang memungkinkan air melewatinya. Melalui proses yang agak rumit, ia akhirnya akan hancur menjadi bubuk. "Ini adalah proses alam, daur ulang besi kembali ke alam," kata Mann.Pasca tenggelam, selama beberapa dekade Titanic menyimpan misteri. Tak ada yang tahu di mana tepatnya lokasi kapal mahsyur itu tenggelam. Bangkai Titanic akhirnya ditemukan oleh ekspedisi gabungan Perancis-Amerika Serikat pada tahun 1985. Bangkai Titanic dijumpai berada sedikitnya 3,8 kilometer di bawah permukaan laut di 530 kilometer tenggara Newfoundland, Canada. Dalam 25 tahun sejak penemuannya, bangkai Titanic dengan cepat memburuk.

Meski nantinya gagal menyelamatkan Titanic, penemuan bakteri ini punya arti yang sangat penting. Salah satunya, mempercepat pelapukan kapal tua dan rig minyak lawas.
Di sisi lain, penemuan bakteri ini juga akan membantu para ilmuwan mengembangkan cat atau lapisan pelindung untuk menjaga kapal dari bakteri pemakan karat itu. Temuan peneliti akan dipublikasikan 8 Desember 2010 dalam International Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology. (hs)

Sumber: VIVAnews

Loricifera: Hewan Yang Mampu Hidup Tanpa Oksigen

Sekelompok peneliti laut dalam asal Italia dan Denmark menemukan hewan multiseluler yang melangsungkan seluruh hidupnya tanpa menghirup oksigen.






Kelompok peneliti itu menemukan tiga spesies Loricifera (hewan serupa ubur-ubur berukuran panjang kurang dari satu milimeter) di endapan cekungan L’Atalante, sebuah kawasan perairan asin tak beroksigen di kedalaman 3000 meter, dasar laut Mediterrania, atau laut tengah.

Ketika Antonio Pusceddu, peneliti dari Marche Polytechnic University, Italia, dan rekan-rekannya menemukan Loricifera tersebut, mereka memperkirakan bahwa hewan itu jatuh ke dasar laut setelah hewan itu mati.

“Kami kira sangatlah tidak mungkin mereka bisa hidup di sana,” kata Pusceddu, seperti dikutip dari Discovermagazine, 27 Desember 2010. Akan tetapi, dari uji coba yang dilakukan pada dua ekspedisi berikutnya, diketahui bahwa hewan yang ditemukan itu masih hidup.

Pusceddu menyebutkan, Loricifera memiliki cara adaptasi yang unik terhadap lingkungan bebas oksigen.

Hewan ini tidak memiliki mitochondria (organel sel yang mampu mengonversi oksigen menjadi energi seperti yang ada di seluruh sel hewan lainnya). Akan tetapi mereka menggunakan struktur yang menyerupai hydrogenosom, organ yang menggunakan mikroba untuk menghasilkan energi.

Yang menarik, temuan ini membuka kemungkinan adanya kehidupan hewan yang lebih kompleks di lingkungan keras bebas oksigen lainnya. Baik di Bumi ataupun di tempat-tempat lain. (hs)

sumber: VIVAnews

Bagian Otak Yang Mengatur Tidur

Setiap malam kita masuk ke dalam kondisi biologis ajaib, yakni transisi dari sadar secara penuh ke tidur. Akan tetapi, sekelompok peneliti asal Washington State University mencoba mencari tahu lebih lanjut apa yang menyebabkan peralihan itu terjadi.


Ternyata, kunci dari peralihan antara sadar ke tidur adalah salah satu molekul terpenting pada tubuh, yakni Adenosine triphosphate (ATP). ‘Tombol tidur’ ini merupakan senyawa yang menyimpan energi yang akan digunakan dalam metabolisme.

Seperti dikutip dari Discovermagazine, 30 Desember 2010, tim peneliti yang dipimpin oleh neurobiolog James Krueger, menemukan bahwa penembakan neuron terus menerus di otak saat kita terjaga menyebabkan mereka melepas ATP ke ruang di antara sel.

Saat molekul itu terakumulasi, ia mengikatkan diri ke neuron di sekelilingnya dan mendukung sel. Ini memungkinkan sel menyerap senyawa kimia lain, seperti tumor necrosis factor dan interleukin 1, yang kemungkinan besar membuat sel itu tertidur.

Sel-sel ini kemudian aktif saat elemen lain di otak mulai menurunkan aktivitasnya dan membuat manusia tertidur. “Temuan ini menegaskan bahwa tidur bukanlah fenomena yang terjadi di seluruh bagian otak,” kata Krueger. “Tidur hanya terjadi pada sejumlah sirkuit syaraf yang paling aktfi di siang hari dan melepaskan sebagian besar ATP,” ucapnya.

Ini berarti, kata Krueger, sebagian lain dari otak tetap terjaga meskipun kita tertidur pulas. “Ini merupakan temuan yang sangat penting,” kata Mark Mahowald, pakar pengamat tidur di University if Minnesota yang tidak terlibat dalam penelitian itu. “Temuan bahwa hanya sebagian dari otak saja yang tertidur sangat sesuai dengan pemahaman kami seputar fenomena sleepwalking,” ucapnya.

Seperti diketahui, saat sleepwalking terjadi, orang tidur sambil berjalan, sambil matanya terbuka dan dapat menghindari obyek yang ada di hadapannya agar tidak menabrak. Meski demikian, orang itu tidak memiliki kesadaran saat melakukan sleepwalking.

Peran ATP yang semakin jelas ini juga dapat berperan penting dalam proses pembuatan obat-obatan baru untuk membantu mengatasi insomnia ataupun masalah gangguan tidur lainnya.

Sumber: VIVAnews